Na Hasara Dödö, Na Hasara Li, Ta'olikhe Gawöni-Ta'olae Guli Nasi

Abu'a Gömö Lö Abu'a Li

Sumber Foto: Aisyafra
Kalimat di atas merupakan salah satu peribahasa Nias yang mempunyai makna yang sangat dalam, dimana terdiri dari 3 kata, yakni Abu'a (terbayar) Gömö (Utang) Lö'ö (Tidak) Li (Suara/Pembicaraan/Ucapan) dimana kalau di artikan dengan kalimat sederhana yakni "Utang Materi terbayarkan, namun ucapan yang menyakitkan tidak akan terbayarkan", peribahasa tersebut juga dapat diartikan yaitu kata-kata sindiran (yang menyakitkan hati) sering terlalu sulit dilupakan.

Peribahasa ini sangat sering digunakan oleh orang tua di Kepulauan Nias untuk mengingatkan kepada semua agar dalam berbicara harus santun dan tidak menyakiti orang lain, karena ucapan yang "tajam" ataupun menyakitkan tidak akan pernah terlupakan bahkan akan menjadi duri dalam daging, yang selalu terasa nyeri meski kita anggap sudah terobati atau sembuh.

Sangat miris terasa, dimana hari semakin hari peribahasa ini sudah dianggap 'biasa saja' dan tidak dimaknai ibarat angin lalu, karena sebagian manusia terlena dengan kekuasaan dan jabatan yang sedang di emban, bahkan sudah banyak yang lupa diri, sombong dan haus 'rupiah' dan sudah tidak mengenal mana yang halal ataupun haram, mana yang boleh dan yang tidak boleh, bahkan peribadatan hanya menjadi 'pencitraan' saja rasa 'kedermawanan' menjadi sebuah kebanggaan meski di satu sisi uang yang didapatkan untuk dibagi-bagi merupakan uang dari hasil penindasan dan korupsi.

Dunia semakin hari semakin carut marut, tidak sedikit menghalalkan segala cara mendapatkan kekuasaan, harta dan bahkan wanita bagi pria, banyak sudah pura-pura lupa dengan peribahasa yang dituliskan diawal, bahkan tak mengenal tua ataupun muda dimana kata-kata pedas dan tajam merupakan lontaran mulut setiap hari, demi-demi dan demi tahta dan harta.

Meski dalam keadaan pesimis, namun keyakinan tentu masih ada dalam hati saya dengan penuh harap suatu saat peristiwa ini akan segera berubah, hidup dalam kasih akan segera dinyatakan. 

Oleh karena hal tersebut saya mengajak kepada semua para pembaca tulisan ini, untuk mengevaluasi diri masing-masing termasuk saya secara pribadi, agar dalam bertutur dan berperilaku mari saling menghargai, seperti peribahasa nias mengatakan tufoi mbeweu bulu lato fatua lö mohede'ö.